Selasa, 28 Februari 2012

Cakrukan di Warung Brawijaya Kediri

Masyarakat Kediri bahkan masyarakat pecinta sepak bola tentu tidak asing lagi dengan nama Stadion Brawijaya Kediri. Stadion yang berdiri kokoh di sisi timur laut kota Kediri itu banyak menyimpan kenangan bagi pecinta sepak bola khususnya masyarakat Kediri dengan Persik-nya. Stadion satu – satunya yang menjadi kebanggan masyarakat Kediri. Seringkali event – event local dan nasional sepakbola diselenggarakan di stadion ini. Dalam tulisan ini, saya tidak membahas tentang stadion ataupun persepakbolaan yang beritanya selalu hangat setiap hari, tetapi saya akan memotret warung – warung pedagang kaki lima di sebelah utara stadion. Warung sederhana yang selalu ramai dan menjadi tempat favorit untuk “cangkruk” bagi masyarakat terutama kawan – kawan sales distributor, marketing, debt collector, pedagang, mac leren (makelar) dan lainnya.

Sebenarnya jumlah warung yang berada di utara stadion Brawijaya itu tidaklah banyak, hanya 8 warung yang terdiri 1 warung soto daging dan lainnya 7 warung kopi plus makan yang berjajar memanjang ke belakang (ke barat). Warungnya sangat sederhana yang terbuat dari tenda – tenda terpal, bahkan ada 2 warung yang berada di bawah stadion. Sejak pagi sekitar pukul 07.00 warung – warung itu sudah mulai ramai orang untuk sarapan dan hanya sekedar “ngopi”. Makan minum dengan harga yang lumayan murah dan rasanya cukup sedap. Suasana nyaman dan damai dapat kita sasksikan dari masing – masing pengunjung. Mereka ada yang minum kopi sambil membaca Koran, ngobrol – ngobrol, menelepon klien, berdiskusi serius. Tampak sekali mereka menikmati suasana yang teduh dan asri di bawah pohon trembesi yang besar sambil melakukan aktifitas sebelum terjun ke lapang. Mereka menganggap warung tersebut sebagai kantor kedua bahkan kantor pertama sebelum masuk ke kantor utamanya (hehehe).

Secangkir kopi dan sebatang rokok terkadang cukup untuk memberikan semangat yang luar biasa bagi mereka, apalagi kumpul bareng dengan kawan – kawan yang berbeda tempat kerjanya. Mereka saling tukar informasi, strategi dan berbagi cerita dengan kawan yang beda bidang kerja sehingga dapat menambah wawasan atau jaringan.  Suara gelak tawa lepas tidak jarang kita dengar, terasa beban pekerjaan yang sering membelenggunya lepas. Suasana stress menjadi santai dan bersahabat. Pohon – pohon trembesi besar yang menaungi warung – warung itu menambah kedamaian dan betah para “cangkruker” setiap harinya.

Apabila ada sedang berada di kota Kediri silahkan kunjungi warung – warung itu, dan kiranya sangat menyesal kalau tidak menikmati secangkir kopi di bawah pohon yang rindang di utara stadion Brawijaya.

Senin, 27 Februari 2012

Kereta Ekonomi Sekarang Lebih Nyaman



Perjalanan naik kereta api dari Jember menuju kota santri Jombang pagi ini cukup santai dan terasa nyaman. Demikian pula perjalanan dua hari kemarin saat perjalanan dari Jombang menuju kota suwar suwir Jember dimana selain nyaman dalam perjalanan juga waktunya sangat tepat (baca juga di Tepat waktu bersama KA Sri Tanjung). Hari ini juga demikian. Kereta berangkat dari stasiun Jember pukul 09.10 WIB tepat sesuai jadwal dan tiba di stasiun Jombang pukul 14.45 WIB agak molor 10 menit dari jadwal. Meskipun kereta ekonomi, sekarang penumpang sangat bisa menikmati perjalanan dengan santai, nyaman dan aman. 

Berbeda dengan perjalanan kereta api sebelum bulan September 2011 tahun lalu, karena ada peraturan baru yang terkait dengan pengelolaan stasiun dan penumpang juga pedagang asongan. Peraturan itu berlaku efektif tanggal 1 September 2011. Peraturan yang saya ketahui dan rasakan langsung adalah tentang tata cara pembelian tiket, larangan pengantar memasuki area dalam stasiun dan larangan pedagang asongan berjualan di dalam kereta. Entah peraturan lain yang bersamaan dengan peraturan itu.

Dalam hal tiket penumpang, ada perubahan signifikan yang dampaknya langsung dapat dinikmati oleh penumpang kereta api kelas ekonomi. Cara pembelian tiket sangat berbeda dengan sebelumnya. Kalau dulu sebelum peraturan itu terbit, penumpang dapat membeli tiket menjelang atau pada hari itu juga tetapi sekarang penumpang dapat memesan tiket seminggu sebelumnya. Selain itu pada tiket tercantum nomer gerbong dan tempat duduk penumpang. Dampak dari pengaturan terkait tiket ini terlihat sekali pada antrian loket pembelian tiket menjadi tidak terlalu memanjang, calon penumpang tidak berjubel ketika akan memasuki gerbong kereta, tidak ada lagi orang berebut tempat duduk dan tidak ada lagi penumpang yang berdiri di dalam kereta. Coba kita bandingkan dengan kondisi sebelumnya, antrian panjang biasa kita jumpai di depan loket pembelian tiket malah terkadang sampai puluhan meter, calon penumpang berlarian ketika kereta datang dan berjubel memasuki gerbong sehingga sangat membahayakan keselamatan penumpang, seringkali kali kita jumpai orang yang berebut tempat duduk dan penumpang duduk di lantai gerbong bahkan sampai tidurpun di bawah kursi. Keadaan itu sudah tidak kita jumpai lagi, kalaupun ada itu mungkin sedikit dan oknum saja.
 Suasana di dalam gerbong kereta yang cukup teratur dan nyaman...... asyiik deh...

Sekarang kondisi di dalam stasiun terlihat sepi dan ramai hanya menjelang kereta tiba karena calon penumpang diperbolehkan masuk ke ruang tunggu dalam stasiun 1 (satu) jam sebelum kereta tiba. Selain itu para pengantar dilarang untuk memasuki areal dalam stasiun. Stasiun Gubeng dan Wonokromo Surabaya yang biasanya ramai saja terlihat sepi. Dengan peraturan baru ini, keamanan dan kenyamanan calon penumpang kereta bisa terjaga. Peraturan ini bisa mengurangi kriminalitas yang kerap terjadi pada calon penumpang, seperti pencopetan, penodongan, pelecehan seksual dan sebagainya. Petugas keamanan dapat memantau keadaan dengan mudah.

Peraturan baru yang masih atau perlu pertimbangan lebih mendalam adalah larangan pedagang asongan berjualan di dalam kereta. Para pedagang asongan sampai sekarang masih ramai berjualan di dalam kereta, juga para pengamen. Peraturan ini mendapat reaksi keras dari para pedagang asongan kereta api di Medan, Sumatra Utara, beberapa bulan lalu. Memang bertahun – tahun bahkan sampai anak cucu mereka mengais rejeki dari berdagang di dalam kereta. Pihak PT. Kereta Api Indonesia tidak bisa begitu saja melarang atau mengusir mereka, perlu ada pendekatan yang komprehensif dan cerdas untuk mengatasi masalah pedagang asongan ini. Hubungan saling menguntungkan terjadi antara pedagang dengan penumpang, karena di sini terjadi transaksi yang tentunya menguntungkan pedagang kecil. Penumpang juga diuntungkan dengan terpenuhi kebutuhannya. Para pedagang asongan ini hanyalah masyarakat golongan bawah yang hanya mempunyai lahan dan alternative berdagang di kereta, lain itu tidak. Meskipun terkadang atau bahkan sering, banyak penumpang yang merasa terganggu dengan ulah atau kebisingan pedagang asongan tetapi kebanyakan para penumpang tidak menolak secara keras. Kiranya saya berpendapat bahwa mereka jangan dilarang berdagang di dalam kereta tetapi perlu adanya pengaturan, pembinaan para pedagang. Seburuk apapun, para pedagang itu adalah bagian masyarakat kita yang perlu mendapat perhatian khusus apalagi dalam kondisi bangsa seperti ini, selain itu mereka juga dapat mengurangi angka kemiskinan yang semakin meningkat.

Selain itu yang perlu mendapat perhatian dan sorotan adalah para pengamen jalanan yang ada dalam kereta. Seringkali penumpang tidak merasa nyaman dengan kehadirannya. Banyak yang memaksakan penumpang untuk memberi sekedar receh kepada mereka. Petugas kereta api harus bijak dan tegas dalam menangani para pengamen tersebut daripada menangani para pedagang asongan. Semua itu untuk kenyamanan para penumpang dan kemakmuran para pedagang asongan sebagai rakyat kecil. Terima kasih PT. KAI yang telah membuat terobosan yang dapat member rasa aman, nyaman dan kepuasan kepada masyarakat pengguna kereta api ekonomi yang kebanyakan penumpangnya adalah kelas bawah.

Minggu, 26 Februari 2012

Mitos Kesenian Reog Berdasar Etimologi Kata

Kesenian reog mempunyai banyak mitos, legenda, sejarah atau foklor yang berkembang dalam masyarakat maupun literatur. Banyak versi ini ternyata dapat memperkaya khasanah cerita, legenda, mitos tentang kesenian reog, dan akan menambah pula kemesteriusan kesenian reog. Seiring dengan banyaknya penelitian tentang kesenian reog, akan berkembang dan makin mendalam pengetahuan kita tentang seluk beluk reog. Para peneliti baik yang dari dalam maupun luar negeri nampaknya semakin tertarik meneliti semakin dalam dari berbagai sudut pandang, seperti peneliti Ian Douglas Wilson meneliti tentang aspek spiritual hubungan warok dan gemblak, Jotsco Petcovic meneliti kesenian reog secara umum, Dede Oetomo meneliti Reog dan homosexual, Prof. Ayu Soetarto meneliti hubungan warok dan kesenian dan masih banyak lagi hasil penelitian yang terkait dengan reog.

Tulisan ini akan menuturkan mitos kesenian reog yang diambil dari sudut pandang Etimologi Kata R-E-O-G atau R-E-Y-O-G. Cerita asal mula reog pada versi ini dihubungkan dengan kata - kata dan pemenggalan serta penggabungan asal katanya. Penulisan kata Reog juga dapat sebagai Reyog pada dasarnya merupakan perkembangan dari kata dan pengucapan kata itu sendiri.

Menurut Ensiklopedi nasional Indonesia, kata Reog berasal dari kata rog, rog sama artinya dengan reg, reg atau reg sama artinya dengan yog. Rog bisa menjadi erog, herog, erog - erog asem. Sedangkan Reg dapat menjadi horeg atau reg - regan. Sementara itu kata Yog menjadi hoyog, eyog dan selanjutnya. Pada dasarnya semua kata - kata tersebut mengandung arti bergerak atau diguncang atau bergoncang - dinamis. Melihat dari asal kata reog di atas diuga bahwa kesenian Reog muncul ketika keadaan Wengker atau Ponorogo dalam keadaan kacau atau terjadi konflik yang panjang, mungkin sekali kesenian reog sengaja diciptakan untuk mengatasi situasi tersebut (sering dijumpai untuk memperingati peristiwa besar diciptakan suatu karya untuk menandai terjadinya peristiwa tersebut).

Versi mitos kesenian reog dilihat dari sudut pandang Etimologi kata sangat sedikit pemaparannya terkait dengan literatur yang mendukung juga belum banyak, sehingga memungkinkan pengembangan penelitian lebih lanjut. terlepas masalah mitos atau sejarah itu benar, salah, tepat atau tidak tergantung dari analisa dan penafsiran masing - masing pembaca...

Dapat juga di baca di REOG DANCER

Sabtu, 25 Februari 2012

Tepat Waktu Bersama KA Sri Tanjung


Baru kali ini saya dan orang - orang yang pada hari kebetulan naik kereta api ekonomi Sri Tanjung merasakan kepuasan terkait ketepatan waktu berangkat (departure time) dan tiba (arrival time). Kereta ekonomi jurusan Yogyakarta - Banyuwangi itu, menurut jadwal, tiba di stasiun Jombang pukul 12.15 WIB dan berangkat pukul 12.22 WIB. Pukul 12.10 WIB petugas stasiun memberitahukan bahwa kereta Sri Tanjung akan tiba dan penumpang diharapkan bersiap - siap. Saya spontan berkomentar "Kok tumben tepat waktu" karena saya sudah menunggu di stasiun Jombang sekitar 30 menit. Setelah 6 jam lebih menempuh perjalanan, saya turun di stasiun Jember. Saya lihat jam di dinding stasiun, jarumnya menunjuk pukul 18.10. Waah... tepat banget, sesuai dengan jadwal tiba kereta. Saat itu juga  saya ingat lagu "Kereta Tiba Pukul Berapa"nya Bang Iwan Fals :
 ..................................
Sampai stasiun kereta, Pukul setengah dua
Duduk aku menunggu, Tanya loket dan penjaga
Kereta tiba pukul berapa, Biasanya...kereta terlambat
Dua jam mungkin biasa, Dua jam cerita lama

Waaah...harapan Bang Iwan dan masyarakat pengguna jasa kereta api puluhan tahun lalu baru terwujud walo cuma satu kereta ekonomi hari ini. Saya berfikir, andaikan kereta api di Indonesia terutama di Jabodetabek seperti kereta Sri Tanjung hari ini... ehmm tentu tidak ada lagi kemacetan, orang naik di atas gerbong dan seterusnya.

Langkah PT. KAI menertibkan penumpang kereta ekonomi dengan mengatur nomer gerbong dan tempat duduk, melarang pengantar masuk area dalam stasiun, melarang penjual asongan berjualan dalam kereta (tetapi mendapat protes) cukup memberikan dampak yang bagus bagi kenyamanan penumpang. Semoga dari yang kecil ini dapat membawa dampak yang lebih besar bagi perbaikan pelayanan kereta api Indonesia.

Jumat, 24 Februari 2012

Sebuah Pesta Rakyat di Jember Selatan

 Gemuruh suara gamelan Reog mengiringi tarian Dhadhak merak ( Merak Tarung )terus bertalu. Suara gendang yang menyentak, Gong ( Kempul ) terus menderu, lengkingan terompet seakan tidak mengenal hari semakin petang, sang penari-pun juga seakan tidak mengenal lelah. Penari barong terus mengipaskan bulu - bulu merak dengan berbagai gaya (gaya merebah, kayang, lompat dsb) sambil sesekali menunjukkan gemulai tubuhnya di depan para penari Jathil yang terkadang menggoda Dhadhak merak. Tak ketinggalan penari Bujang Ganong yang lincang terus beratraksi lompat, salto diantara penari. Suasana itu semakin semarak, ketika semua penonton merangsek mendekat ke arena pertunjukan. Suasana yang terasa familiar antara penari dan penonton, seakan ada komunikasi yang saling dukung satu sama lain. Penari dengan enjoy menarikan peran masing - masing dan penonton dengan spontan menyemangati para penari. Semarak pertunjukan tersebut tidak terlepas dari para Penggamel dan Pendukung Acara tahunan tersebut.

Gambaran suasana semarak di atas memang sebuah acara yang sengaja diadakan oleh sebuah Paguyuban di desa Pontang, kecamatan Ambulu, kabupaten Jember. Desa kecil dengan mayoritas masyarakatnya petani. Acara tersebut merupakan acara tahunan yang dihelat di desa Pontang dengan biaya yang ditanggung paguyuban sendiri dan diadakan dengan tujuan untuk mengadakan silaturahmi diantara seluruh paguyuban seni reog di wilayah Jember dan sekitarnya. Sebuah Pesta Rakyat "kecil - kecilan" (menurut masyarakat setempat) digelar dengan sederhana namun makna dari acara tersebut yang patut untuk diilhami, diapresiasi dan "ditiru". Tujuan utama diadakan pesta rakyat adalah ajang "Silaturahmi" antar paguyuban reog khususnya dan seniman umumnya.
Pagelaran Pesta Rakyat ini dimulai dengan acara pokoknya, pagelaran Reog dengan format festival dan dilanjutkan obyogan yang pada kesempatan itu biasanya mengundang beberapa seniman reog dari Ponorogo. Acara inti dimulai pukul 10.00 dan berakhir ketika matahari terbenam. Malam harinya, pesta rakyat diisi dengan acara wayang kulit dan campur sari.

Pertunjukan yang sederhana namun mengesankan itu, menunjukkan kepada kita geliat masyarakat desa yang sangat mencintai seni tradisinya dan masih menjunjung tinggi rasa persaudaraan diantara sesama seniman khususnya dan masyarakat pada umumnya. Masyarakat Pontang, khususnya Paguyuban Seni Reog Singo Muncul masih memegang teguh petuah dari sesepuh mereka "Mbah Panut (Alm)" yang menekankan pentingnya rasa persaudaraan, rasa solidaritas, kemandirian, rasa handarbeni dengan seni tradisi. Mbah Panut dalam mendirikan paguyuban seni reog tersebut mempunyai falsafah yang menjadi dasar paguyuban bahwa dalam suatu paguyuban yang terpenting adalah berkumpulnya orang - orang (interaksi aktif masyarakat) yang saling toleransi, menghargai dan membantu satu sama lain.

Pesta rakyat yang benar - benar beangkat dari dan muncul dari masyarakat bawah tanpa adanya intervensi atau bantuan pihak lain termasuk pemerintah. Perayaan yang pantas dikatakan meriah dan berkesan bagi penonton, tamu dan siapa saja yang hadir dalam acara itu dari awal hingga akhir. Perayaan yang memilih bulan Muharam ( Suro ) untuk pelaksanaannya karena bulan tersebut sangat identik dengan suasana mistis masyarakat Jawa pada umumnya. Paguyuban Seni Reog Singo Muncul, salah satu paguyuban reog di kota yang cukup jauh dari pusat kesenian reog (Ponorogo) yang masih eksis mengadakan pertunjukan kesenian reog sebagai perwujudan kecintaan dan kebanggan terhadap rasa persaudaraan, seni budaya asli nusantara (Ponorogo).



dapat dibaca juga di www.reogdancer.blogspot.com 

Kamis, 23 Februari 2012

Mitos Burung Merak dan Harimau

Mendengar kata kesenian Reog Ponorogo tentulah gambaran di benak kita adalah burung Merak yang nangkring di atas kepala Harimau yang dipadu dengan seperangkat gamelan pelog slendro. Sebagai komponen utama kesenian Reog, kapala Harimau (Barongan) dan bulu - bulu burung Merak (yang disebut Dhadak Merak) mempunyai nilai - nilai yang sangat vital dalam pertunjukan kesenian reog. Misalnya, ada gamelan lengkap tetapi tidak ada Dhadak meraknya namanya bukanlah Reog, ada Dhadak Merak namun tidak ada gamelan pengiringnya, suasana tidak akan hidup. Nah betapa vitalnya keberadaan Dhadak merak dalam pertunjukan Reog Ponorogo.

Dua binatang Harimau dan Merak ini memang mempunyai suatu mitos tersendiri yang saling terkait. Mitos - mitos tentang hewan banyak mengilhami seniman jaman dahulu untuk membuat suatu kesenian atau pemujaan. Seperti di China, dipercaya ada seekor Naga laut yang mengilhami adanya Liong dan berpadu dengan Barongsai, di Afrika (suku bangsa Sulu) mengagungkan keperkasaan burung kasuari dan sebagainya.

Mengenai masyarakat Ponorogo, keperkasaan Harimau dan keindahan burung merak ternyata melahirkan ide yang meletakkan rasa kagumya terhadap kehidupan dalam hutan yang mana harimau sebagai raja hutan dan pemakan segala hewan di hutan ternyata dapat akur, menyatu dengan burung merak. Sehingga dalam legenda Ponorogo, apabila suatu hutan itu ada burung merak dapat dipastikan hutan tersebut juga dapat diketemukan Harimau. Kenyataan ini ditangkap dengan baik dan dimanfaatkan oleh para pemburudi India, bahwa hampir dapat dipastikan setiap hutan yang ada meraknya pasti ada harimau-nya (Slamet Soeseno, Merak Mencari Macan, Intisari Feb 1997).


Kesenangan burung merak memamerkan bulunya mengilhami untuk diwujudkan dalam sebuah seni. Tarian burung merak menduduki kedudukan istimewa dalam cerita rakyat, mitologi kesenian, kerajinan tangan dan kesusastraan. Burung merak mendapat kedudukan mulia terutama di dunia seni dan kebudayaan yang berbau India. Burung merak dilegendakan sebagai kendaraan para dewa, dan merak tercatat dalam kitab Rigvedha yang berbicara eratnya persahabatan dan tali kasih sayang antara seorang gadis dan burung merak. Banyak nyanyian klasik India yang menggambarkan burung merak seperti Malhar raag, mandhu madhavi raagini. Selain itu Natyashastra dan Abhinayadarvana merupakan dua buah karya sastra mengenai tari - tarian India yang menjadi sumber inspirasi tari klasik India seperti Bharatnatyam, Kathakali dan Kuchipudi.

Lain burung merak, lain lagi dengan Harimau. Keperkasaan harimau sudah tidak diragukan lagi, karena sebutan yang melekat pada dirinya adalah Raja Hutan. Meskipun Harimau adalah binatang buas namun keindahan kulitnya, ketajaman matanya, taring sudah membuat pesona tersendiri bagi yang melihatnya. Perpaduan antara keindahan, kewibawaan, keangkuhan, keganasan, kemolekan nilah yang membuat kesenian Reog mempunyai sifat yang mirip dengan kedua binatang itu, angkuh dan egois tetapi menyimpan suatu keindahan yang luar biasa.

Rabu, 22 Februari 2012

Langgar Tua





Sebuah bangunan berukuran 6 m x 5 m tampak kokoh berdiri di pojok kiri halaman rumah, meskipun umurnya sudah lebih dari satu abad. Berdiri di bawah pohon mangga, “langgar” tua berdinding kayu weru itu tentunya banyak menyimpan cerita panjang. Bayangkan saja, Bani Kyai Munobijat mendirikan langgar itu sekitar tahun 1890an kalau dilihat dari tahun yang tertulis pada keranda tua yang dulu disimpan di samping langgar. Jadi sekarang umurnya sekitar 120an tahun. Umur yang tidak muda lagi bagi sebuah bangunan.



Kentongan Bambu

Perlu kiranya mengetahui bahwa Mbah Kyai Munobijat adalah salah satu orang penyebar agama Islam di wilayah barat Ponorogo dan sekaligus generasi awal yang tinggal di desa Srandil kecamatan jambon kabupaten Ponorogo. Beliau adalah keturunan dari Kyai Ageng Muhamad Besari (Tegalsari, Ponorogo), dimana Pondok Tegalsari merupakan pusat pondok di wilayah Ponorogo dan sekitarnya pada tahun 1600an. Salah satu keturunan dari Kyai Mohamad
Besari yang terkenal adalah Kyai Ageng Kasan Besari yang menurunkan para pendiri Pondok Moderen Darussalam Gontor, pondok pesantren terbesar di Indonesia.

Oleh karena itu di desa Srandil kita dapat menjumpai beberapa langgar model panggung (angkring) yang masih kokoh berdiri, salah satunya langgar yang berada di wilayah timur desa Srandil. Langgar tersebut barada di areal keluarga Bani Kasan Muntahar. Langgar panggung tersebut mempunyai kerangka bangunan inti berbahan kayu jati dengan sisi – sisi kurang lebih 20 cm dan berdinding kayu weru setebal 3 cm. Tidak terlalu tinggi, tetapi malah terkesan kekar. Mungkin karena itulah yang membuat langgar itu masih kokoh meski umurnya satu abad lebih. Pernik – perniknya masih terkesan klasik, seperti bantal dari kayu randu dan kentongan dari bamboo. Bapak Soeharno (imam langgar) menuturkan bahwa generasi yang hidup sekarang ini hanya meneruskan dan “ngopeni” saja, juga merawat langgar tua itu agar tidak kotor, cepat rusak serta meneruskan tradisi nenek moyang terutama mengurus jama’ahnya. Dalam ngopeni ini memerlukan kesadaran dan keikhlasan yang nantinya untuk kesadaran "mengingat dan kembali kepada jalan Allah" demikian pesan Pak Harno.

Selasa, 21 Februari 2012

Kesenian Reog Dalam Pertunjukan Obyogan dan Festival

Delapan belas tahun silam, tahun 1994, kota kecil di pojon barat laut Jawa Timur, kota Ponorogo, ada sebuah terobosan penting dalam bidang pengembangan Kesenian aslinya - REOG. terobosan yang cukup spektakuler, kala itu, karena Pemerintah Daerah Kabupaten Ponorogo mampu dan berani mengangkat kesenian Reog dalam ajang Festival dari tingkat lokal menjadi tingkat Nasional. " Festival Reog Nasional ke ... Dalam Rangka Grebeg Suro Tahun.... dan Hari Jadi Kota Ponorogo ke... " itulah kira - kira bunyi banyak sepanduk yang terpampang di berbagai sudut kabupaten Ponorogo. Festival Reog Nasional pertama kali dilaksanakan (1994), diprakarsai oleh Pemda Kab. Ponorogo, yang waktu itu Bupati di jabat oleh Dr. H. Markum Singodimedjo, MM. Festival tersebut diadakan dengan maksud antara lain, untuk mengembangkan kesenian reog agar lebih kreatif dan inovatif, mengangkat kesenian reog menjadi salah satu tujuan utama wisata Ponorogo dan yang terpenting adalah mengokohkan kesenian Reog menjadi IKON kota Ponorogo. Sehingga tidak ayal apabila kata REOG menjadi slogan pembangunan kab. Ponorogo, yang berarti Resik, Endah, Omber, Girang - gumirang. Festival Reog Nasional tersebut semakin semarak dan menjadi pusat perhatian karena sudah menjadi agenda tahunan Pemerintah Daerah Ponorogo.

Seperti biasa dan sudah menjadi tradisi masyarakat ponorogo, bahwa Festival Reog dilaksanakn di Aloon - aloon Porogo, sehingga diharapkan seluruh masyarakat dari berbagi penjuru dapat menyaksikan pertunjukkan akbar tersebut. Sebenarnya Festival Reog ini sudah lama dihelat diPonorogo, hanya saja masih bertaraf lokal. Jadi tiap kecamatan mengirim delegasi satu group untuk tampil sebagai perwakilan dalam Festival Reog. Baru tahun 1994, Festival Reog dilaksanakn dengan lingkup lebih luas yaitu Festival Reog Nasional. Pada Festival Reog Nasional I, peserta yang ikut selain dari Ponorogo juga ada yang dari kota lain, seperti Jakarta, Wonogiri, Surabaya, Balikpapan. Dan ini terus berkembang dari tahun ke tahun, bahkan pernah dalam suatu FRN ada delegasi dari negara Suriname.

Dari perjalanan FRN I sampai Festival Reog Nasional tahun 2011, banyak hal yang dipetik, utamanya dalam pertunjukan Kesenian Reog Nasional dilihat dari estetika seni, dan semakin banyaknya ragam gerak yang dapat dikembangkan. Ragam gerak yang kreatif dan inovatif. Para kreator seni, terus mengeksplor ragam gerak dari berbagai macam ragam gerak tari di nusantara atau bangsa lain. Hasil dari kreasi seni ini sangat membantu dalam pengembangan kesenian Reog sehingga menjadi suatu pertunjukan yang Spektakuler dan menjadi tujuan wisata setiap tahunnya.

Pertunjukan Kesenian Reog di Ajang Festival dan Obyogan
Dalam pertunjukan di Ajang Festival, pertunjukan Reog kelihatan rapi, rampak dan meriah. Pemain begitu semangat memperagakan tari yang telah digarapnya, mulai tari warok, tari jathilan, tari bujang ganong, tari kelana sewandana dan tari dhadhak merak. Ragam gerak tari sangat variatif dan kreatif, sehingga banyak penonton yang terkesima. Gerak tari dari masing - masing penari nampak rampak dan rapi, hampir - hampir para pemain menjaga dan berusaha agar gerak tari yang diperagakan tidak salah. Komposisi gamelan Reog yang khas, Pelog Slendro, juga sangat variatif. Mulai dari awal sampai akhir pertunjukan banyak atraksi dan variasi gamelan yang diperagakan oleh para "penggamel", yang terkadang dilupakan oleh suatu pertunjukan.

Komponen utama dalam pertunjukan adalah pemain (peraga tari) dan penonton. Dalam pertunjukan di panggung Festival, pemain dengan asyik menari dan memperagakan tarian yang diramu oleh pelatihnya (koreografer), di sisi lain penonton dalam posisi duduk manis di depan panggung sambil memperhatikan jalannya pertunjukan dari awal sampai akhir. Apabila kita lihat sepintas, pertunjukan itu sangat meriah dan mengesankan, tetapi perlu kita catat bahwa keterpaduan (interaksi) antara pemain dan penonton seakan tidak ada, yang ada hanya pemain dengan asyiknya menari dan penonton dengan asyiknya melihat tanpa ada "jual beli" komunikasi rasa.

Berbeda dengan pertunjukan kesenian reog di kampung - kampung, pentas hajatan dsb, yang biasa disebut "Reog Obyogan". Pertunjukan kesenian reog obyogan terkesan "semrawut", kacau, kumal, tariannya lepas dan bebas, mana penonton dan pemain terkadang sulit dibedakan. Hal ini disebabkan karena yang bisa menjadi pemain bukan hanya group yang pentas saja, melainkan penontonpun diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam pertunjukan tersebut. Dalam suasana yang terkesan semrawut itu, sebenarnya terjadi interaksi rasa yang optimal antara pemain dan penonton, sehingga kesan dalam rasa pemain dan penonton setelah pertunjukan terasa lega dan puas.

Dari paparan di atas dapatlah kiranya digaris bawahi bahwa suatu pertunjukan yang sukses dan memuaskan semua pihak, baik penonton maupun pemain adalah, adanya interaksi aktif antara pemain dan penonton, pola gerak tidak terikat dalam suatu tatanan yang terlihat apik dan rampak, tidak dalam suasana formal. (Brudin)

Agar lebih jelas dan mendalam, sebaiknya pembaca melihat dan terlibat dalam kesenian Reog, sehingga perasaan yang paling dalam untuk menikmati "Wiraga", "Wirama", Wirasa" dengan puas.

Senin, 20 Februari 2012

Expresi Seniman Reog Somoroto

Masyarakat Ponorogo khususnya Seniman reog seakan terus merasa haus akan pertunjukan kesenian reog, meskipun Ponorogo baru saja diadakan perhelatan akbar Festival Reog Nasional. Lima Puluh peserta festival tampil secara bergantian siang sampai malam hari selama satu minggu penuh. Pesertanya pun berasal dari berbagai daerah di Indonesia, sehingga variasi pertunjukannya juga bervariasi dan tentunya tidak mengecewakan penonton. Sebenarnya sebelum diadakan festival, para seniman dan grup - grup yang akan tampil sudah melakukan latihan berkali - kali, bahkan hampir setiap hari mereka mengolah gerak tari, rasa dan irama yang mengiringi pertunjukan reognya. Selain itu, setelah festival berakhir yaitu memasuki bulan Suro, masih banyak grup - grup reog yang mengadakan pertunjukan, pagelaran dalam rangka bersih desa. Keinginan seniman reog Ponorogo untuk terus berexpresi ini, seakan tak terbendung sehingga muncul ide pertunjukan reog yang diadakan secara lokal (kecamatan, karisidenan).

Gagasan itu salah satunya diwujudkannya pertunjukan Reog yang diadakan oleh seniman Reog di wilayah eks karisidenan Somoroto, yang meliputi kecamatan Kauman, Sukorejo, Sampung, Jambon dan Badegan. Pertunjukan ini diselenggarakan di desa Somoroto, disebuah tempat yang diyakini masyarakat Ponorogo sebagai peninggalan Kerajaan Bantar Angin. Dalam acara tersebut masing - masing kecamatan mengirim satu delegasi/grup, yang mana format pertunjukan diserahkan kepada grup masing - masing. Jadi dalam acara pertunjukan itu, pertunjukan reog yang dikemas dalam format festival dan Obyogan (jalanan) dipadukan. pertunjukan tersebut terkesan bebas sesuai keinginan para seniman untuk berekspresi. Kalau diperhatikan, nampaknya pemain reog (Penari) dengan penonton terjalin komunikasi yang saling "jual-beli" sehingga pertunjukan sangat berkesan dan meriah.

Dari pertunjukan yang ditampilkan masing - masing peserta, dapat ditangkap bahwa sebenarya para seniman dan masyarakat Ponorogo masih sangat haus akan hiburan khususnya pertunjukan kesenian kebanggannya, Reog. Hanya saja pertunjukan yang diinginkan oleh masyarakat Ponorogo, adalah pertunjukan yang tidak terbatasi oleh pagar aturan yang ketat seperti festival sehingga penonton dapat menonton secara dekat dan tidak merasa ada batas. Demikian halnya pada sebagian seniman reog, mereka ingin pertunjukan reog tidak hanya dalam festival saja. Mungkin bagi sebagian seniman, ajang festival reog masih bernuansa kepentingan kelompok atau dapat dikatakan tidak fair.

Terlepas dari maksud dan tujuan diselenggarakannya pertunjukan tersebut, yang perlu kita garis bawahi adalah keinginan masyarakat dan para seniman reog yang sangat besar untuk mengekspresikan diri dalam kesenian reog. Semangat berekspresi inilah yang menjadi salah satu faktor tetap hidupnya suatu kesenian, khususnya kesenian tradisiona. Kegiatan yang dilaksanakan di Somoroto ini sangat membanggakan bagi para pecinta seni tradisi, karena keterlibatan antara seniman dan masyarakat dalam keseniannya sangat tinggi. Mungkin tanpa campur tangan pemerintah pun, mereka sudah dapat mengadakan perhelatan yang sangat meriah. Semoga saja acara semacam ini dapat diagendakan secara periodik (bulanan, tri wulanan, tahunan) sehingga masyarakat dapat terhibur dan seni reog terus akan hidup.

Minggu, 19 Februari 2012

Pulang Kampung


Rasa rindu kampung halaman memang suatu perasaaan yang sangat lumrah bagi semua orang, meskipun masih 2 bulan yang lalu kami pulang ke kampung halaman. Seperti biasa kami memanfaatkan hari sabtu - minggu untuk pulang kampung ke desa terpencil di Ponorogo bagian barat yaitu desa Srandil kecamatan Jambon. Dua hari kami kira cukup untuk menikmati suasana keluarga yang hangat. Suasana desa yang sejuk dan jauh dari kondisi desakan keinginan menambah suasana semakin jenak di rumah bersama keluarga besar kami, dan kebetulan adik - adik saya semua kumpul. Jadi lengkaplah keluargaku dalam perjalananku pulang kampung ini... Istri, anak - anaku (two princess) tampak menikmati suasana ini, dan terlebih yang terlihat sangat bahagia adalah kedua orang tuaku, Bapak dan Ibuku.

Sungkemku Bapak Ibu....